Latest Post

kakek

Seorang penjual topi berjalan melintasi hutan. Karena cuaca panas, ia memutuskan beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan disampingnya. Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut.

Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak keatas dan betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Yang semuanya mengenakan topi-topinya.

Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata monyet-monyet itu menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Ternyata monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama.

Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.

Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Ketika terbangun iapun menyadari kalau monyet-monyet dipohon tersebut telah mengambil semua topi-topinya.

Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi-topi itu erat-erat.

Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang dilemparkan oleh cucu penjual topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata,

"Emangnya cuman elo aja yang punya kakek...?"
 

Peranan Roh Kudus dalam Hidup Orang Percaya

Nats: Efesus 5:18-21
18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Di dalam pandangan orang Chinese, ada tiga tipe orang:
Tipe orang yang pertama, sien ce sien cie, artinya orang yang pada waktu sebelum sesuatu hal terjadi dia sudah melihat ke depan apa yang akan dia hadapi, apa yang harus dia persiapkan.
Tipe orang yang kedua, ho ce ho cie, yaitu orang yang selalu diajak untuk belajar untuk mempersiapkan kerohanian kita, mendisiplinkan pribadi kita, jawabannya, “Ah, hidup itu masih panjang. Bukankah aku masih muda?” Selalu berkata, nanti saja, tomorrow will be better. Ini adalah jenis orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kenapa? Karena hari ini dia gagal, tidak ada penyesalan. Tomorrow will be better. Orang seperti ini selalu menunda kesempatan, mengira masih ada waktu bagi dia.
Tipe orang ketiga yang paling berbahaya, pu ce pu cie, orang yang cuek dan hidup untuk diri sendiri. Kita perlu menggugah dan membangunkan orang-orang seperti ini yang tidak mau tahu dan sangat pesimis dan pasif sekali serta kepala batu. Dia tidak tahu untuk apa dia hidup dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk hari depannya, dan apa yang akan dia hadapi ke depan dia sendiripun tidak mau tahu. Itulah kebanyakan orang-orang yang dikatakan oleh rasul Paulus ‘sedang mabuk oleh anggur.’ Apakah berarti kita tidak boleh minum anggur? Minum anggur atau tidak boleh minum anggur bukan karena anggur itu salah. Apakah minum anggur itu berdosa? Saya katakan, tidak. Karena mujizat yang Tuhan Yesus lakukan pertama kali adalah mengubah air menjadi anggur di dalam pesta pernikahan di Kana. Jadi bukan karena anggurnya, bukan masalah minum atau tidak minum, tetapi masalahnya adalah hati kita pada waktu melakukan segala-galanya sebelum kita minum anggur itu.
Maka tiga tipe orang ini mengawali khotbah saya pagi ini. Bagaimana kita sebagai orang Kristen dipersiapkan di tengah-tengah jaman ini, biar kita melihat kebenaran firman Tuhan memimpin kita. Sebagai anak-anak Tuhan kita sudah menerima keselamatan dengan dua konsep yaitu “getting in” dan “staying in.” Kita masuk dan tinggal di dalamnya. Sekali keselamatan itu diberikan, tidak pernah akan hilang. Seseorang yang sudah menerima Kristus dan sudah diselamatkan, apakah nanti pada akhirnya seperti yang dikatakan oleh teologi Armenianism yaitu jika engkau tidak baik-baik mengerjakan keselamatanmu dengan segala perbuatan baik, dengan kekuatanmu, dengan kemampuanmu, pada akhirnya engkau tidak akan diselamatkan? Konsep seperti ini akan membuat kita menjadi bimbang, membuat kita menjadi orang yang tidak karuan, membuat kita seringkali menjadi berteriak-teriak kepada Tuhan, minta Roh Kudus masuk di dalam hidup kita. Maka tidak heran di Cina selalu ada lagu “Welcome Holy Spirit,” yang istilahnya hari ini Holy Spirit bisa singgah, tetapi nanti bisa pergi, lalu bisa ditarik kembali dengan kekuatan magic supranatural untuk masuk. Akhirnya nanti siapa yang masuk?
Di dalam hal ini kita melihat keselamatan itu dilaksanakan oleh Tuhan, getting in and staying in, masuk dan tinggal. Sehingga waktu kita memperoleh keselamatan, Roh Kudus tinggal di dalam kehidupan orang percaya. Hari ini saya akan memberikan tiga hal yang Roh Kudus lakukan di dalam hidup orang percaya.
1. The Spirit and Ethical Life.
Pada waktu seseorang diselamatkan, hidupnya bukan milik mereka lagi, tetapi Kristus diam di dalam dirinya. Berarti keberadaan diri orang percaya itu bukan lagi dirinya sendiri tetapi Roh Tuhan yang tinggal di tengah-tengah kehidupan kita. Namun banyak orang Kristen mengeluh, dia sudah menjadi orang percaya tetapi seringkali kerohaniannya “up and down.” Sdr sudah menjadi orang Kristen bertahun-tahun, apakah sdr tidak pernah mengalami hal seperti ini? Apakah ada di antara sdr yang berani mengatakan saya lebih baik daripada orang lain, saya tidak pernah berbuat dosa, rohani saya selalu klimaks dan tidak pernah jatuh? Tidak ada. Saya selalu mengatakan di tengah-tengah dunia ini tidak ada seorangpun yang bisa dikatakan sempurna adanya. Semua orang pasti pernah berbuat dosa. The Spirit and Ethical Life merupakan konsep yang sangat penting karena pada waktu seseorang dipimpin oleh Roh Kudus dan mata rohaninya dibuka, Roh Kudus akan memimpin dia kembali, dari pasif menjadi aktif. Tidak ada orang secara aktif melakukan kebenaran kecuali Roh Kudus mengubah dia. Firman Tuhan mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang baik, tidak ada seorangpun yang benar. Semuanya sudah berbuat dosa.” Maka konsep the Spirit and Ethical Life ini mengandung dua pengertian, too easy and too hard. Dimana “easy-”nya? Karena ini lebih bersifat individual. Pada waktu seseorang dipimpin Roh Kudus, tidak ada yang namanya bersama-sama. Pada waktu sdr menerima kuasa keselamatan dan kuasa Roh Kudus, semuanya bersifat individual. Ada yang menerima keselamatan waktu dia masih kecil, ada yang sudah dewasa, atau ada yang sudah hampir meninggal baru percaya. Tetapi juga “too hard” dalam hal terlalu sulit karena kita dihadapkan di dalam satu tantangan etika yang begitu real. Menjadi orang Kristen bukan hanya sekedar menerima baptisan dan sesudah itu hidup suci seperti malaikat. Orang seperti itu bisa jadi sebetulnya karena kurang sosialisasi atau kurang pergaulan. Menjadi orang Kristen begitu sulit karena kita dihadapkan dengan tuntutan etika yang real sekali, kita harus bertanggung jawab dan harus menjadi teladan di tengah-tengah dunia yang berdosa ini. Ini adalah panggilan yang terlalu sulit. Tetapi itulah tantangan bagi kita. Siapakah yang dapat memampukan kita memiliki kehidupan beretika tinggi di tengah-tengah dunia yang berdosa ini? Peranan kuasa Roh Kudus tidak pernah tinggal diam. Dia terus-menerus mengingatkan kita, orang-orang yang lemah ini, untuk terus bersandar kepadaNya. Jangan mengira pendeta itu lebih hebat rohaninya daripada orang Kristen yang lain. Begitu orang Kristen jatuh dibanding dengan orang non Kristen jatuh, jatuhnya itu berbeda. Orang non Kristen jatuh, waktu dia berbuat dosa, dia selalu menikmati. Tetapi orang Kristen begitu jatuh, jatuhnya bisa begitu dahsyat.
2. The Spirit and the New Covenant.
Perjanjian Allah atau the Covenant ini bukan ditulis dengan tinta dan kertas, tetapi dengan Roh Allah yang hidup; bukan dengan loh batu melainkan di dalam loh daging yaitu hati manusia. Bagaimanapun brengseknya sdr, bagaimanapun sdr pernah mengecap kebenaran Injil Kristus, tetapi kemudian meninggalkan Tuhan, lalu bagaimana? Ada seorang ibu menangis kepada saya, mengatakan anaknya sekarang sudah murtad dan meninggalkan Tuhan. Saya hanya bisa memberikan penghiburan kepadanya, jika anaknya pernah mengalami keselamatan yang sungguh, kalau dia pernah mengecap arti pertobatan dan pernah beriman dengan sungguh di hadapan Tuhan, cepat atau lambat kuasa Roh Kebenaran itu tidak akan tinggal diam. Peranan Roh Kudus tidak akan pernah menidurkan dia. Peranan Roh Kudus tidak akan pernah membiarkan dia terus berada di dalam kegelapan. Roh Kudus akan terus-menerus mengingatkan dia, karena hukum yang tertulis itu mematikan tetapi Roh itu menghidupkan. Roh Kudus pasti akan membuat diri kita hidup di dalam kebenaran, hidup meresponi kebenaran firman Tuhan, hidup meresponi apa yang menjadi amanat agung Tuhan untuk kita kerjakan. Itulah pimpinan Roh Kudus. Sehingga kita bersyukur akan the Spirit and the New Covenant ini. Maka etika bagi Paulus, pada waktu dia menghadapi berbagai problema di tengah-tengah gerejanya, problema di tengah-tengah masyarakatnya, pada dasarnya bagi Paulus, masalah etika ini dasarnya adalah persoalan teologia murni dan simple dan persoalan itu berhubungan dengan pengetahuan akan Allah yang dapat kita pelajari dan dapat kita ketahui di dalam keterbatasan pribadi kita. Kita harus mengakui keterbatasan kita pada waktu belajar akan kebenaran firman Tuhan tetapi kita meminta pimpinan dari kuasa Roh Kudus itu terus-menerus memberikan kemampuan kepada kita. Yang kita bicarakan dalam hal ini bukan persoalan etika berdasarkan hubungan humanis saja, bukan berdasarkan undang-undang belaka. Tetapi etika yang dimaksud di sini adalah kembali kepada persoalan teologia murni, persoalan hubungan pribadi ktia dengan Tuhan. Di tengah-tengah dunia Barat ini bagaimana mendidik anak kita hidup di dalam kebenaran? Sulit sekali. Sejak di dalam kandungan ibunya anak itu sudah punya benih dosa. Tidak perlu diajar, anak sudah tahu berbuat dosa. Tidak perlu diberitahu, anak sudah otomatis bisa berbuat jahat dan tahu melakukan pembalasan. Itu sebab orang tua menyekolahkan anaknya supaya dia belajar berbuat baik, belajar dari orang baik. Di dalam hati kita sedalam-dalamnya kita tahu, berbuat jahat itu gampang tetapi berbuat kebaikan itu sulitnya bukan main. Itulah persoalan dasar teologia murni yang harus kita ketahui. Sehingga segala sesuatu yang harus kita kembalikan kepada Pencipta kita, sang Kebenaran itu, maka seperti kata Paulus, segala sesuatu yang engkau kerjakan di tengah-tengah dunia ini harus dengan Tuhan. Itulah konsep yang kita mengerti di dalam point the Spirit and the New Covenant ini. Kenapa? Karena pada waktu Allah memberikan the New Covenant ini Allah juga meminta hubungan kita dengan Tuhan semakin hari semakin dekat.
Yang pertama, tujuan kita melakukan segala sesuatu bagi Tuhan adalah untuk memuliakan Tuhan. Inilah tujuan hidup kita, to glorify Him. Di dalam pengakuan iman the Westminster Confession of Faith chapter pertama, tujuan manusia diciptakan itu bukan untuk makan dan minum saja, tetapi untuk memuliakan Tuhan.
Ada seorang ibu tua merindukan suaminya juga percaya Tuhan. Suaminya itu orang yang keras dan begitu sulit untuk dibawa ke gereja. Seorang pria Chinese itu sangat otoriter. Isteri tidak boleh ikut campur dan tidak boleh mengatur suami. Sudah diInjili, sudah didoakan, tidak mempan-mempan. Seolah-olah semakin didoakan, semakin keras orang itu. Sdr pernah memiliki pengalaman seperti ini? Sdr jangan kapok. Ini bukan karena doa kita kurang manjur, tetapi karena seseorang yang berteriak kepada Tuhan supaya orang yang tidak bertobat ini menerima belas kasihan dari Tuhan, Setanpun tidak tinggal diam. Kuasa kegelapan tidak eprnah tinggal diam. Semakin didoakan, semakin keras suaminya memperlakukan dia. Maka ibu ini memakai cara lain. Dia memasakkan makanan-makanan yang paling enak untuk suaminya sedangkan dia sendiri hanya makan mantou. Suaminya menjadi curiga, kenapa isterinya melakukan hal ini. Akhirnya waktu didesak, isterinya mengatakan, “Karena aku mencintai kamu, saya tidak tahu cara yang bagaimana lagi untuk membawamu mengenal Kristus, aku harus memberikan yang terbaik bagimu selama kamu masih hidup. Makanlah dan nikmatilah sepuasmu selama masih ada kesempatan. Kalau saya meninggalkan dunia ini, saya memiliki hidup yang kekal bersama Kristus. Sebagai seorang isteri yang mencintaimu, saya begitu ingin engkau juga bisa bersamaku hidup di dalam kekekalan, tetapi engkau tidak mau. Maka aku hanya bisa memberikan apa yang terbaik kepadamu sekarang ini.” Mendengar kalimat itu suaminya menjadi sungkan sekali, sampai akhirnya dia sendiri yang meminta isterinya membawa dia ke gereja.
Yang kedua, segala sesuatu harus dikerjakan untuk Tuhan, itu adalah pola teladan dari Yesus Kristus sendiri. Memang ini adalah hal yang begitu sulit, tetapi ini yang harus kita kerjakan. Mungkin ada kekurangan tetapi kalau engkau tidak mengerjakannya sama sekali, engkau berdosa besar. Kerjakanlah baik-baik. Yang ketiga, prinsip kasih. Kasih itu adalah Allah sendiri, Allah yang sudah menyatakan kasihNya ke tengah-tengah kehidupan kita. Maka inilah yang mendorong kita untuk mengerjakan segala sesuatu untuk semata-mata memuliakan Tuhan.
3. The Spirit and Preaching.
Paulus mengajarkan beberapa sikap orang Kristen di dalam bagian ini. Yang pertama, hendaklah kamu penuh dengan Roh. Perintah ini bukan bersifat sementara tetapi merupakan suatu perintah yang berwenang, merupakan suatu keharusan, bukan sesuatu yang fakultatif atau suatu pilihan belaka. Di dalam kehidupan kita yang sudah mengenal keselamatan dan anugerah Tuhan, sdr tidak berhak untuk memilih. Allah yang berdaulat sebelum dunia ini dijadikan, sebelum engkau dibentuk di dalam rahim ibumu, Allah sudah memilih dan menentukan kita. Sehingga pada waktu kita melihat dua kondisi yang digambarkan di dalam bagian Efesus ini sama-sama dipengaruhi oleh unsur luar. Yang satu digambarkan sebagai mabuk oleh anggur, seorang peminum. Seorang alkoholik itu dipengaruhi oleh alkohol, yang membuat dia menjadi liar, buas, tidak bermoral dan tidak terkontrol hidupnya. Bahkan kelakuan seorang pemabuk bisa lebih jahat, lebih kejam dan lebih buruk daripada binatang. Sedangkan sebaliknya yang satu lagi adalah seseorang yang berada di dalam pimpinan dari kuasa Roh Kudus. Dipengaruhi oleh kuasa Roh Kudus itu berbeda total dengan orang yang mabuk. Jika orang mabuk membuat keberadaannya seperti binatang, turning a human being into a beast, sebaliknya orang yang penuh dengan Roh Kudus akan membuat dirinya seperti Kristus. Kenapa? Karena karya penyelamatan Kristus itu dimulai dari dalam hati orang. Ini juga merupakan karya pekerjaan Roh Kudus yang bekerja di dalam hatinya yang membuat dia aktif berespons akan kebenaran Tuhan. Menjadi percaya bukan karena melihat tetapi karena mendengar. Kalau engkau hanya percaya karena melihat, engkau akan kecewa. Tetapi kalau engkau menjadi percaya karena engkau mendengar firman Tuhan, maka sin tao se cung tin tao. Karena di dalam Rom.10:14-15 Paulus mengatakan hal ini. Siapa bisa percaya kalau dia tidak mendengar firman? Yohanes Pembaptis di padang gurun meneriakkan firman Tuhan. Demikian juga Yesus Kristus selama 3 1/2 tahun melayani hanya 35 kali melakukan mujizat, tetapi kenapa hari ini gereja-gereja melakukan lebih banyak mujizat daripada Yesus, tetapi mujizatnya tidak lebih daripada penipuan fenomena, pencengkraman di dalam psikologi sehingga membuat orang takut. Maka point the Spirit and Preaching ini memperlihatkan kepada kita orang menjadi percaya dan mengikut Kristus bukan karena kehebatan orang di dalam memberitakan Injil. Kehebatan dia hanya karena dia dipakai Tuhan. Mereka menjadi percaya bukan karena kemampuan kehebatan proklamasi Injil tetapi juga karena kekuatan Roh Kudus yang memberikan kepastian yang kokoh. Menjadi seorang Reformed, kita wajib memberitakan Injil Tuhan, harus lebih bersemangat daripada orang Kharismatik. Kenapa? Karena kita tahu kita memberitakan kebenaran Allah. Seorang penabur yang menaburkan benih, kita tidak tahu kapan benih itu tumbuh. Tetapi kita tahu Tuhan akan memberi pertumbuhan pada waktunya. Karena itu kita tidak perlu takut, karena kita memberitakan Injil kepada orang-orang pilihan yang kita tidak tahu ada dimana dan kapan kita bisa ketemu mereka. Namun kita berusaha semaksimal mungkin. Maka ada perpaduan antara the Spirit and the Preaching ini membuat kita kembali sadar, orang yang taat kepada pimpinan Roh Kudus baru disebut orang rohani sewaktu seluruh pikiran, perasaan, kebebasan dan jasmaninya itu diatur oleh Roh Kudus. Sekali lagi saya mengatakan di dalam hal ini, orang yang taat kepada pimpinan Roh Kudus baru disebut orang rohani karena pemikiran, perasaan dan kebebasan jasmaninya diatur oleh Roh Kudus. Sdr yang dulunya pasif sekarang diaktifkan, yang dulunya tidak ada unsur keaktifan melakukan kebenaran tetapi hanya aktif di dalam berbuat dosa, sekarang pada waktu sdr menerima pencerahan di dalam ati pemulihan dari yang lama menjadi baru, segala keinginanmu, segala hawa nafsu kedaginganmu Tuhan kikis sedikit demi sedikit. Proses ini terjadi satu demi satu, tidak ada orang yang begitu dibaptis langsung berubah total seperti malaikat. Sedikit demi sedikit, tiap hari tiap sifat Tuhan hancurkan. Ini yang diberitakan oleh Paulus, ”...bukan karena aku tetapi karena keberadaan Roh Kudus yang terus-menerus bekerja.” Sebagai orang Reformed kita harus percaya waktu kita memberitakan firman, kita yakin ada janji Allah kepada setiap orang-orang pilihanNya. Tetapi yang perlu kita perhatikan bahwa bekerjanya Roh Kudus melalui firman Allah memimpin manusia untuk kembali kepada kebenaran firman Tuhan. Maka Roh Kudus dengan firman Allah itu tidak dapat dipisahkan. Roh Kudus tidak mungkin memimpin orang melanggar kebenaran firmanNya, karena Dia adalah Roh Kebenaran. Jika orang hanya menekankan kepenuhan kuasa Roh Kudus tetapi tidak pernah mengajarkan kebenaran firman Tuhan, maka sangat berbahaya sekali. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang memimpin orang masuk ke dalam kebenaranNya. Kita bukan orang pintar tetapi kita adalah orang berhikmat. Orang pintar rationya mengontrol perasaannya lalu mengontrol tindakannya. Kita puas? Tidak. Kita mengatakan di atas ratio masih ada kebenaran firman Tuhan, wahyu Allah, itulah yang memimpin kita hidup berhikmat. Kehendak Tuhan adalah absolut dan tidak pernah berubah tetapi pimpinan Roh Kudus itu bersifat sangat dinamis. Pimpinan kuasa Roh Kudus itu mempunyai dinamika yang tidak dapat diprediksi dan dipikirkan oleh manusia. Setiap kesaksian hidup kita berlainan. Ada yang latar belakangnya orang nakal, tetapi Tuhan bisa membawa dia berbalik kepada kebenaran. Tujuan pimpinan Roh Kudus adalah memimpin orang masuk ke dalam kehendak Tuhan yang tidak pernah berubah. RohKudus melalui firman Tuhan memimpin ratio manusia. Tuhan menggunakan kebenaran yang diwahyukanNya mengatur seluruh pikiran yang diciptakanNya untuk kembali kepada kedaulatanNya. Maka pemikirannya baru mencapai pemikiran yang tertinggi. Ratio adalah ciptaan Tuhan yang terbatas adanya, ratio tidak dapat membuat manusia mengerti keseluruhan dari kebenaran firman Tuhan. Maka ratio bukanlah kuasa yang tertinggi, sehingga tidak ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari kaum Rationalisme. Kamu pintar? Tetapi kamu harus meminta hikmat yang berasal dari Tuhan. Biarlah kita menyadari keselamatan itu begitu berharga. Maka lakukan, kerjakan dan jangan takut mengabarkan Injil. Berani berkata-kata. Pergilah dan lakukan panggilan Tuhan bagimu.(kz)
 

Kelima jari terdiri dari Jempol, Telunjuk, Jari Tengah, Jari Manis, dan Kelingking.

Si Jempol berbangga hati karena meskipun dia pendek dan gemuk, dia adalah Si Ibu Jari. Apapun yang sifatnya bagus dan istimewa, dia yang bekerja. Dengan mengacungkan Jempol, orang-orang tahu bahwa sesuatu adalah istimewa. Iya kan ?
Si Telunjuk berbangga hati karena dia menunjukkan kekuasaan. Bukankah orang menyuruh seseorang menggunakan telunjuknya?
Si Jari Tengah berbangga hati karena dia yang paling tinggi. Siapa yang dapat menyangkal?
Si Jari Manis berbangga hati karena dia yang paling manis. Bukankah cincin yang indah pun dilingkarkannya di jari manis?
Bagaimana dengan Si Kelingking?
Si Kelingking tidak istimewa, tidak gemuk, tidak tinggi, tidak berkuasa, tidak manis pula. Apanya yang bisa dibanggakan? Sungguhkah Si Kelingking tidak berharga?
Tapi Tuhan memang Maha Adil.
Jempol yang istimewa, Telunjuk yang berkuasa, Jari Tengah yang paling tinggi, dan Jari Manis yang manis tidak bisa bekerja sendirian. Cobalah suruh mereka menyuapkan nasi, tidak akan bisa mereka lakukan sendiri. Kerja sama dua jari juga masih sulit. Kerja sama tiga ataupun empat jari mungkin bisa tapi tidak akan maksimal. Nah, kerjasama lima jari bersama dengan kelingking, barulah sempurna. Si Kelingking yang sekilas tidak memiliki kelebihan apa-apa, tampil sebagai penyempurna.
Intinya adalah kerja sama itu indah. Jika kita mampu mengalahkan ego kita masing-masing dan mau menghargai serta bekerjasama dengan orang lain, maka hidup terasa lebih mudah dan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Orang yang sekilas terlihat lemah bukan berarti tidak memiliki kelebihan, bukan berarti pula harus kita sisihkan. Yang perlu dilakukan adalah meletakkannya pada tempat yang tepat sehingga semuanya menjadi indah luar biasa.
 

ORANG KRISTEN

Tanggal : Jumat, 9 Oktober 2009
Bacaan : Kisah Para Rasul 11:19-26

19. Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena
penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka
tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka
memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.
20. Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang
Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada
orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah
Tuhan.
21. Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi
percaya dan berbalik kepada Tuhan.
22. Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di
Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia.
23. Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah,
bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap
setia kepada Tuhan,
24. karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan
iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
25. Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah
bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
26. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya,
sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu
untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Nas: Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab
Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan
sembarangan (Keluaran 20:7)

Judul:
ORANG KRISTEN

Seiring berlalunya waktu, beberapa kata tertentu dalam bahasa
Indonesia mengalami penurunan makna. Contohnya "mahasiswa". Kata
"mahasiswa" memiliki pengertian "siswa yang lebih tinggi atau agung
derajatnya daripada siswa tingkat dasar dan menengah". Namun, saat
ini makna "mahasiswa" bisa dibilang turun. Kata ini hanya sebatas
merujuk para pelajar yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi
atau universitas. Tidak lebih. Apalagi di Indonesia, ketika
mahasiswa kerap terlibat tawuran, maka nilai "namanya" semakin turun
lagi.

Di Antiokhia, para pengikut Kristus untuk pertama kalinya disebut
Kristen. Dan orang-orang pada zaman itu sungguh-sungguh melihat
perbedaan cara hidup para pengikut Kristus itu, juga dampak positif
keberadaan mereka bagi sekelilingnya. Itu sebabnya kehadiran mereka
dirindukan, bukan dihindari. Pada zaman ini, Kristen barangkali
hanya merujuk pada orang-orang yang datang beribadah di gereja
setiap hari Minggu. Jika demikian, maka sebutan Kristen sudah
mengalami penurunan makna. Sebagai pemilik identitas Kristen, kita
punya andil untuk turut memaknai kata tersebut. Yakni mencerminkan
ajaran-ajaran-Nya, dengan membagikan kasih serta memberi dampak yang
nyata kepada sesama.

Sudahkah orang lain "mengecap dan mengalami" Kristus; saat
berbincang, berelasi, hidup bersama selingkungan dengan kita? Berapa
banyakkah di antara mereka yang berkata, "Aku melihat hidupmu
berbeda dengan orang kebanyakan. Apa rahasianya?" Pada saat itulah,
biar nama-Nya dimuliakan. Dan menjadi waktu yang sangat tepat untuk
membagikan Injil _DYA

MENGIKUTI KRISTUS BERARTI
BERPIKIR, BERKATA-KATA, DAN BERJALAN SEPERTI DIA
 

Mati Ketika Masih Hidup

Hidupilah kehidupan Anda hingga Anda mati. Mengapa saya mengungkapkan pernyataan tersebut? Karena banyak orang yang sudah mati walaupun dalam keadaan hidup. Dalam bukunya How to Live 365 Days a Year, Dr.Schindler menyatakan bahwa tiga dari empat orang yang berbaring di rumah sakit di isi oleh orang yang mengidap EII - Emotional Induced Illness (penyakit yang disebabkan oleh emosi). Jadi bisa dibayangkan, 3 dari 4 orang di rumah sakit akan sehat ketika bisa menangani emosinya.
David J. Schwartz, penulis buku Berpikir dan Berjiwa Besar menceritakan tentang temannya seorang pengacara yang mengidap TBC. Pengacara ini tahu bahwa ia harus menjalani hidup yang terbatas dengan banyak aturan, tetapi hal ini tidak pernah menghentikannya menjalankan praktek hukum, menghidupi keluarga yang baik, dan benar-benar menikmati hidup.
Pria itu telah berusia 78 tahun dan mengekspresikan filosofinya dengan kata-kata ini: "Saya akan hidup hingga saya mati, dan saya tidak akan mencampur aduk hidup dan mati. Sementara saya masih ada di muka bumi ini, saya akan terus hidup. Mengapa harus hanya setengah hidup? Setiap menit yang dihabiskan orang untuk khawatir soal kematian sama saja orang itu sudah mati selama satu menit itu."
Anda bisa menjalani kehidupan ini dengan dua cara. Pertama hidup dalam kekuatiran, maka kematian akan semakin cepat menjemput Anda. Kedua hidup dalam ucapan syukur dan optimisme, maka seburuk apapun keadaannya, Tuhan sanggup membuatnya lebih baik dan lebih baik lagi.
 

ANAK HILANG

Tanggal : Minggu, 11 Oktober 2009
Bacaan : Lukas 15:11-32

11. Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
12. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian
harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan
harta kekayaan itu di antara mereka.
13. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya
itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta
miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
14. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di
dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.
15. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu.
Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
16. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan
babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.
17. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang
upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini
mati kelaparan.
18. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya:
Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
19. aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai
salah seorang upahan bapa.
20. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh,
ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas
kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan
mencium dia.
21. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga
dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
22. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke
mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah
cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
23. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah
kita makan dan bersukacita.
24. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah
hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
25. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang
dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian
tari-tarian.
26. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa
arti semuanya itu.
27. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih
anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
28. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya
keluar dan berbicara dengan dia.
29. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku
melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi
kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk
bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
30. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta
kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa
menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
31. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan
aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
32. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan
menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Nas: Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah
hilang dan didapat kembali (Lukas 15: 24)

Judul:
ANAK HILANG

Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan
sahabat-sahabatku," begitu protes si sulung kepada ayahnya. "Tetapi
baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan
bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak
lembu tambun itu untuk dia."

Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal
dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si bungsu. Ia
menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan
harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya,
lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan
kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat
pengasihan Bapa Surgawi.

Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari
gambaran kita. Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu. Kita
memang tidak sampai "terhilang"; kita tetap ke gereja, aktif dalam
pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah
terjerumus dalam "kemabukan duniawi". Tetapi, kita hidup dalam
ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih
memperoleh "upah". Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang
bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak
bisa terima. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam
kita telah menjadi hakim atas sesama kita.

Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si
anak hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa? _AYA

MENJADI SEPERTI SI BUNGSU ATAU SI SULUNG
SAMA BURUKNYA
 

Try Again

Mazmur 37:24
"apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."
Suatu kali ayah Randi sedang melatih anaknya bersepeda di sebuah taman yang ada di depan rumah mereka. Awalnya, sang ayah memegang dari samping sepeda yang dikendarai Randi. Dengan sabar, ia mengajari anaknya itu bagaimana mengayuh sepeda dan menyeimbangkan badan. Namun, tiba-tiba sang ayah melepaskan tangannya dari sepeda, tentu saja Randi yang belum siap ketika itu pun jatuh.
Air mata Randi keluar saat ia melihat ada darah keluar dari kakinya. Perih, itulah yang dirasakannya ketika itu. Sang ayah yang tidak jauh dari jatuh anaknya itu pun hanya tersenyum dan mendatangi Randi yang sedang menangis dan memegang kakinya yang luka. Ia pun mendatangi anaknya dan memegang kakinya. Dengan santai, ia berkata kepada anaknya, "ah, ini mah gak papa, besok juga lukanya udah kering. Randi, masih mau melanjutkan latihan sepedanya atau tidak?"
Randi yang mendapat pertanyaan dari sang ayah pun terdiam. Air matanya berhenti saat itu dan pikirannya saat itu berputar. Sambil terisak-isak, ia menganggukkan kepalanya tanda untuk mau latihan. Sang ayah pun mengambil sepeda dan meminta anaknya untuk bangkit kembali. Dengan menahan rasa perih, ia pun menuruti permintaan ayahnya. Sepeda kembali ia dipegang dan Randi pun duduk di jok sepedanya.
Sewaktu sang ayah ingin membantunya untuk mengendarai sepeda, tawaran itu ia tolak. Ia meminta ayahnya untuk berada cukup jauh dari dirinya. Sambil menghela nafas panjang, Randi pun mulai mengayuh sepedanya. Pada ayuhan yang pertama dia begitu senang karena ia bisa mengendalikan sepedanya, tapi itu tidak berlangsung lama dan dia pun terjatuh. Hal itu terus terjadi sampai usahanya yang ke-9.
Pada usahanya yang ke-10, Randi kembali mengambil sepedanya. Dia pun dengan semangat mengangkat sepeda yang telah jatuh ke tanah dan kembali mencoba mengayuh sepedanya. Dan usahanya kali ini berhasil. Randi telah bisa menguasai sepedanya seorang diri. Ia pun menghampiri ayahnya dan mengatakan bahwa ia telah bisa berhasil mengendarai sepeda.
Tuhan menginginkan hal yang sama kepada kita. Walaupun mempunyai kuasa untuk menolong saat kita sedang dalam masa "jatuh", Dia ingin kita tetap berusaha untuk bangkit. Dia mau anak-anakNya menjadi anak yang tangguh; anak-anak yang tidak mudah menyerah oleh keadaan yang sukar; anak-anak yang berkata "ya" kepada kebenaran firman Tuhan dan "tidak" kepada dosa.
Saat ini Tuhan bertanya kepada Anda, "apakah engkau mau melanjutkan ujian dari-Ku dan menjadi pemenang sejati?" jika iya, berusaha terus saat Anda merasa gagal dan jatuh. Percayalah tangan-Nya selalu tersedia dan siap membantu ketika Anda membutuhkannya.
Untuk melihat janji Tuhan digenapi, terkadang Anda harus mengeluarkan usaha yang ekstra.
 

Pembaharuan Pikiran Membuka Jalan Bagi Tuhan

Yohanes 5:37
Dan tidak ada seorangpun akan menuang anggur baru ke kantung anggur lama. Jika ia melakukannya, anggur yang baru itu akan memecahkan kulit kantung itu, anggur baru akan terbuang dan kantung anggur itu akan rusak
Barang-barang yang terbuat dari kulit asli seperti sepatu atau tas, memerlukan perawatan khusus agar tetap bagus, tidak pecah dan kaku. Pada jaman Yesus, penyimpanan minuman anggur menggunakan kantung dari kulit lembu, kambing atau domba. Minuman anggur mengandung alkohol yang bersifat mengeringkan, menarik kandungan air dan kelembaban dari sekitarnya. Akibatnya, kantung anggur yang sudah lama dipakai akan menjadi kaku dan kering. Ke dalam kantung anggur seperti itu, tidak bisa dituangkan anggur baru karena kantung yang sudah keras dan kaku itu akan pecah. Anggur yang baru harus dituangkan ke kantung yang baru, yang lentur, fleksibel dan tahan terhadap kekuatan alkohol dari anggur yang baru.
Di dalam kiasan ini, kantung anggur melambangkan pola pikir. Anggur baru adalah semua janji kebesaran dan kemenangan yang Tuhan ingin tuangkan ke dalam kehidupan kita. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengatakan kepada kita untuk terus memperbaharui pikiran, karena tanpa pembaharuan pikiran, Tuhan tidak bisa mencurahkan semua yang baik bagi kita.
Semua manifestasi janji kebesaran Tuhan seperti terobosan finansial, keselamatan keluarga, kesehatan emosi dan perubahan karakter; tidak terjadi sampai pola pikir kita mengenai hal itu sejalan dengan apa yang Tuhan katakan. Bahkan untuk seseorang mengalami kelahiran baru pun mengandalkan satu prinsip dasar ini.
Kelahiran baru sebenarnya adalah detik-detik spesial di mana hadirat Tuhan datang dan Roh Kudus menginsyafkan kita. Pola pikir lama kita yang masih suka dosa, diganti dengan pola pikir baru, menjadi kantung anggur baru yang mengerti bahwa Tuhan benci dosa dan ingin berkomitmen menyenangkan Dia selamanya. Akibat pergantian pola pikir ini, hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan. Dan akibat pemulihan hubungan ini, berkat-berkat-Nya tersedia untuk kita.
Efesus 1:3
Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
Dengan kata lain, kehidupan ke-Kristenan kita adalah suatu perjuangan besar untuk mengubah pola pikir dunia kita menjadi sama dengan firman-Nya seperti dikatakan oleh Roma 12:2; "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
Perjuangan ini dijelaskan rasul Paulus di 2 Korintus 10:4-5: "..... karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, ..." Ini memerlukan disiplin dan kerja keras sampai maranatha, sebab yang menghalangi kita bertumbuh adalah pola pikir kita sendiri.
Tuhan sudah mengerjakan bagian-Nya dengan menebus kita dari kuasa Iblis dan memberikan kuasa untuk kita mendapatkan janji-janji-Nya (2 Petrus 1:3-4). Sekarang, giliran kita yang seharusnya rajin memprogram ulang pikiran kita. Pembaharuan pikiran sesuai firman Tuhan membuat kita berada pada posisi yang benar untuk menjadi bejana yang tepat bagi kegerakan Roh Kudus. Ketahui status Anda di dalam Kristus, sebab hanya di dalam Kristus semua janji yang begitu besar dan berharga itu tersedia bagi setiap orang percaya.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. chencha14 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger